SKRIPSI 2019
PENGARUH TERAPI OKUPASI AKTIVITAS WAKTU LUANG TERHADAP PERUBAHAN HALUSINASI PENDENGARAN PADA PASIEN JIWA DI PUSKESMAS REJOSO KABUPATEN NGANJUK
File Attachment
Halusinasi pendengaran yang terjadi terus menerus dan tidak segera ditangani dapat berpotensi kepada tindakan maladaptif. Terapi okupasi aktivitas di waktu luang dapat mengalihkan perhatian klien dari halusinasi pendengaran, sehingga tidak bertambah parah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi okupasi aktivitas waktu luang terhadap perubahan halusinasi pendengaran pada pasien jiwa di Puskesmas Rejoso Kabupaten Nganjuk.
Desain penelitian ini adalah pre eksperimen dengan pendekatan One Group Pre-Post Test Design. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 12-18 Februari 2019 di Puskesmas Rejoso. Populasi adalah seluruh pasien halusinasi pendengaran yang dirawat di Puskesmas Rejoso Kabupaten Nganjuk, yaitu sebanyak 25 orang. Sampel diambil dengan teknik Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Accidental dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 20 orang. Variabel independen adalah terapi okupasi waktu luang dan variabel dependen adalah perubahan halusinasi pendengaran. Instrumen penelitian ini adalah SOP dan dan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji T Berpasangan dengan ? = 0.05.
Hasil penelitian menunjukkan dari 20 responden sebelum diberi terapi okupasi waktu luang, diketahui memiliki skor halusinasi pendengaran sebesar 5 dengan jumlah 6 orang (30%). Dari 20 responden sesudah diberi terapi okupasi waktu luang, diketahui memiliki skor halusinasi pendengaran rata-rata sebesar 1 dengan jumlah 12 orang (60%). Hasil uji T Berpasangan menghasilkan p-value = 0,000 ? ? (0,05), sehingga H0 ditolak atau Ha diterima, artinya ada pengaruh terapi okupasi aktivitas waktu luang terhadap perubahan halusinasi pendengaran pada pasien jiwa di Puskesmas Rejoso.
Melalui terapi okupasi waktu luang, pasien halusinasi pendengaran diberi kesibukan yang menyenangkan dan bermanfaat, sehingga mereka berkonsentrasi pada aktivitas nya itu dan tidak ada kesempatan untuk melamun, sehingga respon inderawi tanpa rangsangan dari luar berupa halusinasi pendengaran dapat diminimalkan. Disarankan agar Puskesmas Rejoso mengembangkan strategi terapi okupasi waktu luang dengan menambah ragam aktivitas bagi pasien.
Kata Kunci : Terapi Okupasi Waktu Luang, Halusinasi Pendengaran, Pasien Gangguan Jiwa